PENGENALAN FILSAFAT
Pengertian Filsafat
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan
dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.
Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan
percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari
solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi
tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika.
Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut"filsuf".
Kata filsafat dalam bahasa
Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة.
Kata filosofi yang
dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia.
Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan kata aslinya, yang diambil dari bahasa Yunani Φιλοσοφία
(philosophia). Arti harafiahnya adalah seorang "pencinta
kebijaksanaan" atau "ilmu".
Ilmu Pengetahuan sebagai Sketsa Umum Pengantar untuk Memahami Filsafat
Ilmu
Menurut The Liang Gie (1999),
filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan
mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan
segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang
pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan
timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu, bahwa filsafat ilmu
merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu
adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti
perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan
lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini
senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan
(sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya
pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan
sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau
kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento
Wibisono dkk., 1997). Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu,
kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya,
prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam
konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan
dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.
Fenomenologi Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Secara epistemologi dalam gejala
terbentuknya pengetahuan manusia itu, yaitu antara kutub si pengenal dan kutub
yang dikenal, atau antara subyek dan obyek.Walaupun secara tegas keduanya
berbeda, akan tetapi untuk membentuk sebuah pengetahuan keduanya tidak dapat
dipisahkan satu sama lain, dan keduanya wajib ada karena merupakan suatu
kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan manusia.Dalam hal ini pengetahuan
dan ilmu pengetahuan, subyek adalah manusia dengan akal budinya, sedangkan
obyek adalah kenyataan yang diamati dan dialami di alam semesta ini. Suatu
kenyataan bahwa supaya ada pengetahuan, subyek harus terarah kepada obyek, dan
sebaliknya obyek harus terbuka dan terarah kepada subyek.Pengetahuan adalah
peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Maka tanpa ingin meremehkan peran
penting dari obyek pengetahuan, manusia sebagai subyek pengetahuan memegang
peranan penting. Keterarahan manusia terhadap obyek jadinya merupakan faktor
yang sangat menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia.
Pengetahuan terwujud kalau manusia
sendiri adalah bagian dari obyek. Dari realitas alam semesta ini, berkat unsure
jasmaniyah, manusia mampu menangkap obyek yang ada di sekitarnya karena tubuh
jasmani manusia adalah bagian dari realitas alam semesta ini, serta dengan
bantuan jiwa dan akal budinya, manusia mampu mengangkat pengetahuan abstrak
tentang berbagai obyek lain serta bersifat temporal, konkrit, jasmani-inderawi
tadi ke tingka abstrak dan karena itu universal. Pengetahuan manusia tidak
hanya berkaitan dengan obyek konkrit, khusus yang dikenalnya melalui pengamatan
inderawinya, melainkan juga melalui itu dimungkinkan untuk sampai pada
pengetahuan abstrak tentang berbagai obyek lain secara teoritis dapat dijangkau
oleh akal budi manusia. Pengetahuan manusia yang bersifat umum dan universal
itulah memungkinkan untuk dirumuskan dan dikomunikasikan dalam bahasa yang
bersifat umum dan universal untuk bias dipahami oleh siapa saja dari waktu dan
tempat mana saja. Berkat refleksi ini pula pengetahuan yang semula bersifat
langsung dan spontan, kemudian diatur dan dilakukan secara sistematis
sedemikian rupa, sehingga isinya dapat dipertanggungjawabkan, atau dapat pula
dikritik dan dibela, maka lahirlah apa yang kita kenal sebagai Ilmu
Pengetahuan. Jadi, Ilmu Pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui
secara spontan dan langsung tadi, disusun dan diatur secara sistematis dengan
menggunakan metode tertentu yang bersifat baku..
Filsafat Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan adalah
keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki
manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya.
Sedangkan Ilmu Pengetahauan adalah keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang
telah di bakukan secara sistematis. Ini berarti pengetahuan lebih spontan
sifatnya, sedangkan Ilmu Pengetahuan lebih sistematis dan reflektif. Dengan
demikian, pengetahuan mencakup segala sesuatu yang di ketahui manusia tanpa
perlu berarti telah di bakukan secara sistematis. Pengetahuan mencakup
penalaran, penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu. Juga,
mencakup praktek atau kemampuan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan
hidup yang belum di bakukan secara sistematis dan metodis. Filsafat ilmu
pengetahuan adalah cabang filsafat yang mempersoalkan dan mengkaji segala
persoalan yang berkaitan dengan ilmu penegtahuan. Sebelum munculnya ilmu
pengetahuan, manusia telah berupaya menjelaskan dan memahami berbagai peristiwa
tersebut melalui apa yang dikenal sebagai mitos atau cerita dongeng. Melalui
cerita-cerita dongeng, manusia berupaya menjelaskan secara masuk akal (reasonable) makna
berbagai peristiwa dan keterkaitannya dengan peristiwa lainnya. Melalui
mitos-mitos itu manusia lalu memahami pada tingkat yang sangat sederhana,
misalnya, dari mana asal usul bumi ini, dari mana munculnya manusia, bagaimana
terjadinya gempa, guntur, kilat, dan seterusnya. Dengan pemahaman yang sangat
sederhana itu, mereka dapat menata kehidupannya secara lebih baik. Melalui ilmu
pengetahuan, berbagai peristiwa alam semesta lalu di jelaskan secara lain dalam
kerangka teori atau hukum ilmiah yang lebih masuk akal, dan klebih biasa
dibuktikan dengan berbagai perangkat metodis yang berkembang kemudian sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Fokus
Filsafat Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan
merupakan karya budi yang logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan logika dari
seorang kopernikus, suatu gagasan besar tentang heliosentrisme tidak akan
muncul. Begiti juga halnya jika kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan lain.
Metode-metode ilmu pengetahuan adalah metode-metode yang logis karena ilmu
pengetahuan mempraktekan logika. Namun selain logika temuan-temuan dalam ilmu
pengetahuan dimungkinkan oleh akan budi manusia yang terbuka pada realitis.
Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka logika
dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu
pengetahuan.
Tak pernah ada
imajinasi tanpa logika dalam ilmu pengetahuan. Keduannya akan berjalan
bersamaan. Namun pendekatan pertama tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan telah
berkembang sebagai bagian dari hidup kita sebagai manusia dalam masyarakat.
Dengan alasan itu, filsafat ilmu pengetahuan pelu mengarahkan diri selain
kepada pembicaraan tentang masalah metode ilmu pengetahuan juga harus berbicara
tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat. Implikasi sosial dan
etis dari ilmu pengetahuan akan dibicarakan dalam konteks ini. Topik yang
dibicarakan disini antara lain adalah hubungan antara ilmu pengetahuan
dengan life-world, antara ilmu pengetahuan dan politik, bagaimana
harus membangun ilmu pengetahuan dalam masyarakat.
Manfaat
Belajar Filsafat Ilmu Pengetahuan
Dengan mempelajari
filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan, khususnya cara kerja ilmu
pengetahuan. Seseorang akan memperoleh manfaat yang besar sekali bagi kerjanya
kelak di kemudian hari sebagai polisi, ahli hukum, wartawan, teknisi, ataupun
sebagai manajer karena pekerjaan-pekerjaan ini - dan semua pekerjaan lainnya –
pada dasarnya berkaitan dengan upaya memecahkan masalah tertentu. Dalam hal
ini, ilmu pengetahuan dibutuhkan demi memecahkan berbagai persoalan yang
berkaitan dengan perkejaan masing-masing orang secara lebih rasional, tuntas,
dan memuaskan. Yang dibutuhkan dari seseorang yang profesional dalam bidang
perkejaannya adalah, pertama-tama, kemampuan untuk melihat masalah: dimana
masalahnya, seberapa besar masalahnya, apa dampaknya, dan bagaimana
mengatasinya. Ini sangat dibutuhkan dalam bidang pekerjaannya. Sesungguhnya,
inilah yang dipelajari dalam kaitan dengan filsafat ilmu pengetahuan. Yang
terutama di pelajari dalam masing-masing ilmu adalah kemampuan teknis dalam
masing-masing ilmu untuk memecahkan persoalan dari sudut ilmu masing-masing,
sedangkan filsafat ilmu pengetahuan lebih melatih mahasiswa untuk mampu melihat
masalah, mampu melihat sebabnya, apa akibatnya, dan apa solusinya.
Ilmu pengetahuan tidak hanya
bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis. Dalam pengertian, ilmu pengetahuan
tidak hanya berhenti sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia. Melainkan juga
bermaksud membantu manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi
manusia dalam hidupnya. Salah satu persoalan aktual yang dihadapi kita dalam
konteks Indonesia sekarang ini adalah problem modernisasi. Problem modernisasi
adalah bagaimana memecahkan masalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan,
maupun penyakit dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ternyata,
ilmu pengetahuan dan teknologi, terlepas dari akibat negatifnya yang pernah
dialami manusia, sekurang-kurangnya hingga sekarang membantu mengurangi
penderitaan manusia dan meningkatkan kesejahteraannya, melalui apa yang kita
kenal sebagai proses modernisasi.
Ruang Lingkup dan Kedudukan Filsafat
Ruang lingkup filsafat ilmu dalam
bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan,
yaitu : pertama, membahas “sifat pengetahuan ilmiah”, dan kedua, menelaah
“cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah”. Filsafat ilmu ialah penyelidikan
filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk
memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan
penyelidikan lanjutan.
Filsafat ilmu dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Filsafat ilmu umum, yang mencakup kajian tentang persoalan kesatuan, keseragaman, serta hubungan diantara segenap ilmu.
2. Filsafat ilmu khusus, yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-kelompok ilmu tertentu, seperti dalam kelompok ilmu alam, kelompok ilmu masyarakat, kelompok ilmu tehnik dan sebagainya.
Filsafat ilmu dapat pula dikelompokkan berdasarkan model pendekatan, yaitu :
1. Filsafat ilmu terapan, yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pokok pikiran kefilsafatan yang melatarbelakangi pengetahuan normatif dunia ilmu. Pada kajian ini dunia ilmu bertemu dengan dunia filsafat. Jadi filsafat ilmu terapan tidak bertitik tolak dari dunia filsafat melainkan dari dunia ilmu.
Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan normatif mencakup :
a. Pengetahuan yang berupa pola pikir hakekat keilmuan.
b. Pengetahuan mengenai model praktek ilmiah yang diturunkan dari pola pikir.
c. Pengetahuan mengenai berbagai sarana ilmiah.
d. Serangkaian nilai yang bersifat etis yang terkait dengan pola pikir dengan model praktek yang khusus.
Filsafat ilmu dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Filsafat ilmu umum, yang mencakup kajian tentang persoalan kesatuan, keseragaman, serta hubungan diantara segenap ilmu.
2. Filsafat ilmu khusus, yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu atau dalam kelompok-kelompok ilmu tertentu, seperti dalam kelompok ilmu alam, kelompok ilmu masyarakat, kelompok ilmu tehnik dan sebagainya.
Filsafat ilmu dapat pula dikelompokkan berdasarkan model pendekatan, yaitu :
1. Filsafat ilmu terapan, yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pokok pikiran kefilsafatan yang melatarbelakangi pengetahuan normatif dunia ilmu. Pada kajian ini dunia ilmu bertemu dengan dunia filsafat. Jadi filsafat ilmu terapan tidak bertitik tolak dari dunia filsafat melainkan dari dunia ilmu.
Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan normatif mencakup :
a. Pengetahuan yang berupa pola pikir hakekat keilmuan.
b. Pengetahuan mengenai model praktek ilmiah yang diturunkan dari pola pikir.
c. Pengetahuan mengenai berbagai sarana ilmiah.
d. Serangkaian nilai yang bersifat etis yang terkait dengan pola pikir dengan model praktek yang khusus.
Sejarah Perkembangan Ilmu
Ilmu pengetahuan pada awalnya
merupakan sebuah sistem yang dikembangkan untuk mengetahui keadaan lingkungan
disekitanya. Selain itu, ilmu pengetahuan juga diciptakan untuk dapat membantu
kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Pada abad ke-20 dan menjelang abad
ke-21, ilmu telah menjadi sesuatu yang substantif yang menguasai kehidupan
manusia. Namun, tak hanya itu, ilmu pengetahuan yang sudah berkembang
sedemikian pesat juga telah menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan dalam
kehidupan. Hal ini didorong oleh kecenderungan pemecahan masalah kemanusiaan
yang lebih banyak bersifsat sektoral. Salah satu upaya untuk menyelesaikan
masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks tersebut ialah dengan
mempelajari perkembangan pemikiran filsafat.
Perkembangan filsafat Barat
dibagi menjadi beberapa periodesasi yang didasarkan atas ciri yang dominan pada
zaman tersebut. Periode-periode tersebut adalah :
1. Zaman Yunani Kuno (Abad
6SM-6M)
Ciri pemikirannya adalah
kosmosentris, yakni mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya
sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur
awal terjadinya gejala. Dan beberapa tokoh filosof pada zaman ini menyatakan
pendapatnya tentangarche, antara lain :
Thales (640- 550
SM)
: arche berupa air
Anaximander (611-545 SM) : arche berupa apeiron (sesuatu
yang tidak terbatas)
Anaximenes (588-524 SM) : arche berupa
udara
Phytagoras (580-500 SM)
: arche dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan.
Selain keempat tokoh di atas ada dua filosof, yakni
Herakleitos (540-475 SM) dan Parmindes (540-475 SM) yang mempertanyakan apakah
realitas itu berubah, bukan menjadi sesuatu yang tetap. Pemikir Yunani lain
yang merupakan salah satu yang berperan penting dalam pengembangan ilmu
pengetahuan adalah Demokritos (460-370 SM) yang menegaskan bahwa realitas
terdiri dari banyak unsur yang disebut dengan atom (atomos, dari a-tidak,
dan tomos-terbagi). Selain itu, filosof yang sering dibicarakan adalah
Socrates (470-399 SM) yang langsung menggunakan metode filsafat langsung dalam
kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan dialektika (dialegesthai) yang
artinya bercakap-cakap. Hal ini pula yang diteruskan oleh Plato (428-348
SM). Dan pemikiran filsafat masa ini mencapai puncaknya pada seorang
Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan
adalah mencari penyebab-penyebab obyek yang diselidiki. Ia pun berpendapat
bahwa tiap kejadian harus mempunyai empat sebab, antara lain penyebab material,
penyebab formal, penyebab efisien dan penyebab final.
2. Zaman Pertengahan (6-16M)
Ciri pemikiran pada zaman ini
ialah teosentris yang menggunakan pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma
agama Kristiani. Pada zaman ini pemikiran Eropa terkendala oleh keharusan
kesesuaian dengan ajaran agama. Filsafat Agustinus (354-430) yang dipengaruhi
oleh pemikiran Plato, merupakan sebuah pemikiran filsafat yang membahas
mengenai keadaan ikut ambil bagian, yakni suatu pemikiran bahwa pengetahuan
tentang ciptaan merupakan keadaan yang menjadi bagian dari idea-idea Tuhan.
Sedangkan Thomas Aquinas (1125-1274) yang mengikuti pemikiran filsafat
Aristoteles, menganut teori penciptaan dimana Tuhan menghasilkan ciptaan dari
ketiadaan. Selain itu, mencipta juga berarti terus menerus menghasilkan serta
memelihara ciptaan.
3. Zaman Renaissans (14-16M)
Merupakan suatu zaman yang
menaruh perhatian dalam bidang seni, filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Zaman ini juga dikenal dengan era kembalinya kebebasan manusia dalam berpikir.
Tokoh filosof zaman ini diantaranya adalah Nicolaus Copernicus (1473-1543) yang
mengemukakan teori heliosentrisme, yang mana matahari merupakan pusat jagad
raya. Dan Francis Bacon (1561-1626) yang menjadi perintis filsafat ilmu
pengetahuan dengan ungkapannya yang terkenal “knowledge is power”
4. Zaman Modern (17-19M)
Filsafat zaman ini bercorak antroposentris,
yang menjadikan manusia sebagai pusat perhatian penyelidikan filsafati. Selain
itu, yang menjadi topik utama ialah persoalan epistemologi.
a. Rasionalisme
Aliran ini
berpendapat bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya.
Pengalaman hanya dipakai untuk menguatkan kebenaran pengetahuan yang telah
diperoleh melalui akal. Salah satu tokohnya adalah Rene Descartes (1598-1650)
yang juga merupakan pendiri filsafat modern yang dikenal dengan pernyataannya Cogito
Ergo Sum (aku berpikir, maka aku ada). Metode yang digunakan Descrates
disebut dengan a priori yang secara harfiah berarti berdasarkan atas
adanya hal-hal yang mendahului. Maksudnya adalah dengan menggunakan metode ini
manusia seakan-akan sudah mengetahui dengan pasti segala gejala yang terjadi.
b. Empirisisme
Menyatakan
bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah pengalaman, baik lahir maupun batin. Akal
hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah data yang diperoleh
dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah a posteriori atau
metode yang berdasarkan atas hal-hal yang terjadi pada kemudian. Dipelopori
oleh Francis Bacon yang memperkenalkan metode eksperimen.
c. Kritisisme
Sebuah teori pengetahuan yang
berupaya untuk menyatukan dua pandangan yang berbeda antara Rasionalisme dan
Empirisme yang dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804). Ia berpendapat bahwa
pengetahuan merupakan hasil yang diperoleh dari adanya kerjasama antara dua
komponen, yakni yang bersifat pengalaman inderawi dan cara mengolah kesan yang
nantinya akan menimbulkan hubungan antara sebab dan akibat.
d. Idealisme
Berawal dari penyatuan dua
Idealisme yang berbeda antara Idealisme Subyektif (Fitche) dan Idealisme
Obyektif (Scelling) oleh Hegel (1770-1931) menjadi filsafat idealisme yang
mutlak. Hegel berpendapat bahwa pikiran merupakan esensi dari alam dan alam
ialah keseluruhan jiwa yang diobyektifkan. Asas idealisme adalah keyakinan
terhadap arti dan pemikiran dalam struktur dunia yang merupakan intuisi dasar.
e. Positivisme
Didirikan oleh Auguste Comte
(1798-1857) yang hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif
ilmiah. Semboyannya yang sangat dikenal adalah savoir pour prevoir, yang
artinya mengetahui supaya siap untuk bertindak. Maksudnya ialah manusia harus
mengetahui gejala-gejala dan hubungan-hubungan antar gejala sehingga ia dapat
meramalkan apa yang akan terjadi. Filsafat ini juga dikenal dengan faham
empirisisme-kritis, pengamatan dengan teori berjalan beriringan. Ia membagi
masyarakat menjadi atas statika sosial dan dinamika sosial.
f. Marxisme
Pendirinya ialah Karl Marx
(1818-1883) yang aliran filsafatnya merupakan perpaduan antara metode
dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach. Marx mengajarkan bahwa sejarah
dijalankan oleh suatu logika tersendiri, dan motor sejarah terdiri hukum-hukum
sosial ekonomis. Baginya filsafat bukan hanya tentang pengetahuan dan kehendak,
melainkan tindakan, yakni melakukan sebuah perubahan, tidak hanya sekedar
menafsirkan dunia. Yang perlu diubah adalah kaum protelar harus bisa mengambil
alih peranan kaum borjuis dan kapitalis melalui revolusi, agar masyarakat tidak
lagi tertindas.
5. Zaman Kontemporer (Abad
ke-20 dan seterusnya)
Pokok pemikirannya dikenal dengan
istilah logosentris, yakni teks menjadi tema sentral diskursus para filosof.
Hal ini dikarenakan ungkapan-ungkapan filsafat cenderung membingungkan dan
sulit untuk dimengerti. Padahal tugas filsafat bukanlah hanya sekedar membuat
pernyataan tentang suatu hal, namun juga memecahkan masalah yang timbul akibat
ketidakpahaman terhadap bahasa logika, dan memberikan penjelasan yang logis
atas pemikiran-pemikiran yang diungkapkan. Pada zaman ini muncul berbagai
aliran filsafat dan kebanyakan dari aliran-aliran tersebut merupakan kelanjutan
dari aliran-aliran filsafat yang pernah berkembang pada zaman sebelumnya,
seperti Neo-Thomisme, Neo-Marxisme, Neo-Positivisme dan sebagainya.
Landasan Penelaahan Ilmu
Landasan
pokok dalam penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi,
epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman
seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang
sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang
memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek
(ilmuan) .
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual .
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional? .
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual .
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional? .
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
Sarana Berpikir Ilmiah
Berfikir ilmiah adalah berfikir
yang logis dan empiris. Logis adalah masuk akal, dan empiris adalah
dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan,
selain itu menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, dan
mengembangkan. Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan.
Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan
pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa
pengetahuan. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi
dan deduksi. Induksi adalah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang
bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat
khusus, sedangkan, deduksi ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang
bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.
Sarana berfikir ilmiah merupakan
alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus
ditempuh tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat
melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik. Mempunyai metode
tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya
sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah.
Pengertian Sarana Berfikir Ilmiah menurut para ahli :
Menurut Salam (1997:139): Berfikir ilmiah adalah proses
atau aktivitas manusia untuk menemukan/mendapatkan ilmu. Berfikir
ilmiah adalah proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang
berupa pengetahuan.
Menurut Jujun S.Suriasumantri. Berpikir merupakan kegiatan
akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Berpikir ilmiah adalah kegiatan
akal yang menggabungkan induksi dan deduksi.
Menurut Kartono (1996, dalam Khodijah 2006:118). Berpikir
ilmiah, yaitu berpikir dalam hubungan yang luas dengan pengertian yang lebih
komplek disertai pembuktian-pembuktian.
Menurut Eman Sulaeman. Berfikir ilmiah merupakan proses
berfikir/pengembangan pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan
pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah ada.