Senin, 27 Oktober 2014

TEORI-TEORI TENTANG PENGETAHUAN
a.      Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh manusia, atau pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi. Pengetahuan akan muncul ketika orang menggunakan akal atau indranya untuk mengenali benda atau peristiwa tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan. Misalnya, saat pertama kali orang makan cabai maka Dia akan tahu bagaimana rasa cabai itu, bentuknya, warnanya, atau bahkan akan bertanya-tanya apa zat-zat apa yang dikandungnya.
Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran.
b.      Pengetahuan nasionalisme dan Pengetahuan Empirisme
Empirisme, kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari kataempeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuannya melalui pengalamannya. Bila dirujuk kemabali kepada kata asalnya, pegalaman yang dimaksuda ialah pengalaman inderawi.  Manusia tahu gula manis karna ia pernah merasakannya. Menurut aliran ini pertama-tama manusaia itu kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lalu ia memiliki pengetahuan, sesuatu yang tiak dapat diamati dengan panca indera bukan dinamakan pengetahuan jadi aliran ini menyatukan pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang sebenarnya.
Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Manusia, menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui  kegiatan akal mengakap objek. Tokoh aliran ini Rene Descartes. Aliran Rasionalisme tidak mengingkari peranan indera dalam memperoleh pengetahuan tetapi ia hanya sebatas perangsang akal dan memberikan bahan-bahan  yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampai kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas, kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi akal bekerja karna ada bahan idera, akal juga dapat menghasilkan pengetahuan tanpa bahan inderawi.

c.       Kebenaran Ilmiah
Salah satu pokok yang fundamental dan senantiasa aktual dalam pergumulan hidup manusia merupakan upaya mempertanyakan dan membahasakan kebenaran. Kebenaran boleh dikata merupakan tema yang tak pernah tuntas untuk diangkat ke ranah akal (dan batin) manusia. Kebenaran menurut arti leksikalnya adalah keadaan (hal) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Itu berarti kebenaran merupakan tanda yang dihasilkan oleh pemahaman (kesadaran) yang menyatu dalam bahasa logis, jelas dan terpilah-pilah (Bagus, 1991:86). Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
d.      Masalah Kepastian dan Falibilisme Moderat
Masalah Kepastian, dalam empat macam kebenaran, melahirkan 2 pandangan yang berbeda, yaitu pandangan kaum rasionalis yang menekankan kebenaran logis-rasional, dan pandangan kaum empirisis yang menekankan kebenaran empiris. Kebenaran kaum rasionalis bersifat sementara, terlepas dari seberapa tinggi tingkat kepastiannya karena kebenaran sebagai keteguhan dari suatu pernyataan atau kesimpulan sangat tergantung pada kebenaran teori atau pernyataan lain. padahal, teori atau pernyataan lain sangat mungkin salah. Sedangkan kaum empirisis tidak pernah berpretensi untuk menghasilkan suatu pengetahuan yang pasti benar tentang alam. Bagi mereka, ilmu pengetahuan tidak memiliki ambisi seperti iman dalam agama. Ilmu pengetahuan tIdak akan pernah memberikan suatu formulasi final dan absolut tentang seluruh universum = falibilisme. Falibilisme beranggapan bahwa kendati pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang paling baik yang dapat kita miliki.
Falibilisme dan Metode Ilmu Pengetahuan
Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum alam.
e. Ilmu Teknologi dan Kebudayaan
Teknologi adalah kemampuan menerapkan suatu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan suatu produk yang berhubunga dengan seni, yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta bersandarkan pada aplikasi dan implikasi pengetahuan itu sendiri (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988). Menurut Paul W Devore[1], teknologi adalah ilmu terapan yang telah dikembangkan lebih lanjut dan memiliki perangkat keras dan perangkat lunak yang merupakan manivestasi kekuasaan terhadap alam, manusia dan kebudayaannya. Teknologi pada hakekatnya meliputi paling sedikit tujuh unsur[2] yaitu : alat-alat produktif; senjata; wadah; makanan dan minuman; pakaiandan perhiasan; tempat berlindung dan perumahan; serta alat-alat transport.
Kebudayaan menurut E.B.Taylor[3] adalah keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adapt serta kemepuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Adapun unsur-unsur kebudayaan[4] meliputi peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat rumah tangga, senjata,alat-alat produksi transport dan sebagainya); mata pencahaian hidup dan sisten-sisten ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, distribusi,dan sebagainya); sistem kemasyarakatan; bahasa; kesenian; sistem pengetahuan (ilmu, teknologi dan sebagainya); dan religi. Dalam Koentjaraningrat (1990:203-204) terdapat tujuh unsur kebudayaan, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem religi dan kesenian[5].
f.                         Etika Keilmuwan
Istilah etika keilmuwan mengantarkan kita pada kontemplasi mendalam, baik mengenai hakekat, proses pembentukan, lembaga yang memproduksi ilmu lingkungan yang kondusif dalam pengembangan ilmu, maupun moralitas dalam memperoleh dan mendayagunakan ilmu tersebut. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Ada beberapa sikap yang mesti dimiliki seorang ilmuwan, yakni etika, moral, norma, kesusilaan, dan estetika. Sikap-sikap ini akan mencerminkan kepribadian seorang ilmuwan. Jika sikap-sikap di atas tidak dimiliki, kendati seseorang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, “derajatnya” akan dipandang rendah oleh masyarakat. Hal ini senada dengan firman Allah swt dalam Q.S. Al-Mujadalah: 11. “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang berilmu pengetahuan bertingkat-tingkat.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar