TEORI-TEORI TENTANG PENGETAHUAN
a.
Pengetahuan
dan Keyakinan
Pengetahuan adalah informasi
yang diketahui atau disadari oleh manusia, atau pengetahuan
adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui
pengamatan indrawi. Pengetahuan akan muncul ketika orang menggunakan akal
atau indranya untuk mengenali benda atau peristiwa tertentu yang belum pernah
dilihat atau dirasakan. Misalnya, saat pertama kali orang makan cabai maka Dia
akan tahu bagaimana rasa cabai itu, bentuknya, warnanya, atau bahkan akan
bertanya-tanya apa zat-zat apa yang dikandungnya.
Keyakinan adalah suatu sikap yang
ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya
telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang akan merasa yakin kalau apa
yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan terjadi setelah orang percaya
adanya suatu kebenaran.
b. Pengetahuan nasionalisme dan Pengetahuan Empirisme
Empirisme, kata
ini berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari
kataempeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh
pengetahuannya melalui pengalamannya. Bila dirujuk kemabali kepada kata
asalnya, pegalaman yang dimaksuda ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu
gula manis karna ia pernah merasakannya. Menurut aliran ini pertama-tama
manusaia itu kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang
kosong itu, lalu ia memiliki pengetahuan, sesuatu yang tiak dapat diamati
dengan panca indera bukan dinamakan pengetahuan jadi aliran ini menyatukan
pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang sebenarnya.
Rasionalisme, aliran
ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Manusia, menurut
aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal mengakap objek.
Tokoh aliran ini Rene Descartes. Aliran Rasionalisme tidak
mengingkari peranan indera dalam memperoleh pengetahuan tetapi ia hanya sebatas
perangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat
bekerja. Akan tetapi, untuk sampai kepada kebenaran adalah semata-mata dengan
akal. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas,
kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir.
Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar.
Jadi akal bekerja karna ada bahan idera, akal juga dapat menghasilkan
pengetahuan tanpa bahan inderawi.
c. Kebenaran Ilmiah
Salah
satu pokok yang fundamental dan senantiasa aktual dalam pergumulan hidup
manusia merupakan upaya mempertanyakan dan membahasakan kebenaran. Kebenaran
boleh dikata merupakan tema yang tak pernah tuntas untuk diangkat ke ranah akal
(dan batin) manusia. Kebenaran menurut arti leksikalnya adalah keadaan (hal)
yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Itu berarti kebenaran
merupakan tanda yang dihasilkan oleh pemahaman (kesadaran) yang menyatu dalam
bahasa logis, jelas dan terpilah-pilah (Bagus, 1991:86). Kebenaran ilmiah tidak
bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat
digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya
haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
d. Masalah Kepastian dan Falibilisme Moderat
Masalah
Kepastian, dalam empat macam kebenaran, melahirkan 2 pandangan yang berbeda,
yaitu pandangan kaum rasionalis yang menekankan kebenaran logis-rasional, dan
pandangan kaum empirisis yang menekankan kebenaran empiris. Kebenaran kaum
rasionalis bersifat sementara, terlepas dari seberapa tinggi tingkat
kepastiannya karena kebenaran sebagai keteguhan dari suatu pernyataan atau
kesimpulan sangat tergantung pada kebenaran teori atau pernyataan lain.
padahal, teori atau pernyataan lain sangat mungkin salah. Sedangkan kaum
empirisis tidak pernah berpretensi untuk menghasilkan suatu pengetahuan yang
pasti benar tentang alam. Bagi mereka, ilmu pengetahuan tidak memiliki ambisi
seperti iman dalam agama. Ilmu pengetahuan tIdak akan pernah memberikan suatu
formulasi final dan absolut tentang seluruh universum = falibilisme. Falibilisme
beranggapan bahwa kendati pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang paling
baik yang dapat kita miliki.
Falibilisme
dan Metode Ilmu Pengetahuan
Falibilisme ilmu pengetahuan
berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi dari metode ilmu
pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum alam.
e. Ilmu Teknologi dan Kebudayaan
Teknologi
adalah kemampuan menerapkan suatu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu
yang berkenaan dengan suatu produk yang berhubunga dengan seni, yang
berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta bersandarkan pada aplikasi dan implikasi
pengetahuan itu sendiri (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988). Menurut Paul W
Devore[1], teknologi
adalah ilmu terapan yang telah dikembangkan lebih lanjut dan memiliki perangkat
keras dan perangkat lunak yang merupakan manivestasi kekuasaan terhadap alam,
manusia dan kebudayaannya. Teknologi pada hakekatnya meliputi paling sedikit
tujuh unsur[2] yaitu :
alat-alat produktif; senjata; wadah; makanan dan minuman; pakaiandan perhiasan;
tempat berlindung dan perumahan; serta alat-alat transport.
Kebudayaan
menurut E.B.Taylor[3] adalah
keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adapt
serta kemepuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota
masyarakat. Adapun unsur-unsur kebudayaan[4] meliputi
peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat rumah
tangga, senjata,alat-alat produksi transport dan sebagainya); mata pencahaian
hidup dan sisten-sisten ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi,
distribusi,dan sebagainya); sistem kemasyarakatan; bahasa; kesenian; sistem
pengetahuan (ilmu, teknologi dan sebagainya); dan religi. Dalam
Koentjaraningrat (1990:203-204) terdapat tujuh unsur kebudayaan, yaitu bahasa,
sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi,
sistem religi dan kesenian[5].
f.
Etika
Keilmuwan
Istilah etika keilmuwan mengantarkan kita pada kontemplasi mendalam, baik
mengenai hakekat, proses pembentukan, lembaga yang memproduksi ilmu lingkungan
yang kondusif dalam pengembangan ilmu, maupun moralitas dalam memperoleh dan
mendayagunakan ilmu tersebut. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mesti
diperhatikan. Ada beberapa sikap yang mesti dimiliki seorang ilmuwan, yakni
etika, moral, norma, kesusilaan, dan estetika. Sikap-sikap ini akan
mencerminkan kepribadian seorang ilmuwan. Jika sikap-sikap di atas tidak
dimiliki, kendati seseorang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, “derajatnya”
akan dipandang rendah oleh masyarakat. Hal ini senada dengan firman Allah swt
dalam Q.S. Al-Mujadalah: 11. “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman
di antara kamu dan yang berilmu pengetahuan bertingkat-tingkat.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar